Saya berjuang melawan ketidakpercayaan diri. Dan itu bukan hal yang mudah.
Sepanjang usia saya hingga 26 tahun, saya melarikan diri dari ketidakpercayaan diri. Saya tidak lahir begitu saja dengan anugerah percaya diri yang tinggi. Percaya diri saya, dibangun perlahan-lahan, seperti tumpukan bata yang terkadang bisa jatuh. Semua adalah kerja keras bagi saya.
Ketika kecil, saya sangat kurus dan berkulit hitam (cokelat kata nabilla) serta tidak pandai memulai pembicaraan yang mungkin masih terasa sampai saat ini. Saya adalah pemalu secara alamiah. Akrab dengan seseorang yang baru adalah hal sulit bagi saya. Apalagi menemukan bahan pembicaraan yang asyik dan renyah yang dapat membuat saya dan teman baru bercakap-cakap hingga lama, rasanya tidak pernah dalam pertemuan pertama.
Pada saat saya SD, saya yang memang telah tertarik dengan huruf dan bagaimana huruf dapat membuat sebuah paragraf yang indah, jatuh cinta kepada puisi. Setiap memulai kelas baru, saya selalu membaca buku pelajaran bahasa Indonesia hingga selesai, untuk mencari puisi-puisi yang ada di dalamnya.
Puisi adalah hal pertama yang membantu saya belajar percaya diri. Membaca puisi di depan kelas, bukan main “demam panggungnya”. Puisi tidak mudah, teman. Intonasi kita harus baik, membacanya mesti kuat dan keras agar terdengar, dan ada permainan nada yang penuh emosi agar menggugah.
Jika dulu saya dipanggil guru ke depan kelas membaca puisi, teman-teman yang lain langsung merosot duduknya. Mungkin mereka takut dengan suara keras saya, mungkin mereka malu melihat saya. Hal yang biasa terjadi ketika kita kecil, kita merasa berdebar melihat orang lain tampil.
Ibunda pendukung utama saya. Jika sedang belajar baca puisi, beliau selalu berpesan, “Anggap saja tidak ada yang menonton. Anggap semua batu”. Hal tersebut akan memudarkan gemetar saya perlahan-lahan ketika membaca puisi di depan umum.
Begini-begini saya juara 1 lomba baca puisi SD ketika PORSENI loh.
Beranjak SMP, saya yang tidak ‘centil’ seperti kebanyakan teman-teman perempuan yang lain, berhasil naik kelas percaya diri melalui kegiatan Pramuka. Pramuka banyak membantu, karena bersama teman-teman regu, saya tahu bahwa saya tidak aneh. Bahwa jenis karakter perempuan tidak hanya ‘centil’ dan ‘kutu buku’, di mana saya tidak berada pada dua dunia itu.
Saya bersama regu juga juara 1 LTBB di SMP 8.
Masa SMA yang mulai banyak orang berpacar-pacaran itu saya habiskan tanpa pacar. Saya kerja keras beradaptasi dengan sekolah hebat di mana persaingannya juga hebat. Saya berusaha menaikkan nilai gambar saya dari 2 pelan-pelan ke 5. Di SMA, saya ikut serta ekskul tari dan taekwondo. Dan kedua kegiatan itu selain memberi teman juga membantu percaya diri saya semakin meningkat.
SMA masa sulit bagi saya. Mulai dari akademis yang sulit sekali meraih angka memuaskan, sampai naksir cowok yang cuma berani saya pandangi saja.
Tetapi saya juga juara 1 lomba baca berita saat Agustusan. ^^
Selama SD dan SMP, saya tidak memiliki masalah dengan nilai. Tetapi masa SMA inilh yang membuat saya pernah merasa tertekan dengan angka-angka ajaib yang muncul. Entah trauma atau seperti cambukan atau malah berkah dari SMA, ketika kuliah saya sangat anti nilai C.
Jika dapat B saja, saya langsung sebel. Obsesi saya pada nilai juga membantu menaikkan percaya diri saya yang tidak bisa saya mengerti mengapa. Jadi, tolong jangan salah paham jika nilai kuliah saya membuat teman-teman bertanya-tanya. Karena sesungguhnya saya kerja keras sekali dan belajar dari kejatuhan saya ketika SMA.
Teman, tidak percaya diri itu menyiksa. Dan saya berusaha memutus hal itu. Kuliah mungkin memberi pengaruh besar atas percaya diri saya. Belajar public speaking dan sederetan presentasi hingga menjawab pertanyaan membantu saya membangun diri untuk tegas dan berargumen. Memilih kata-kata yang manis serta meluncur indah juga saya pelajari sebagai tambahan yang saya sukai karena saya pecinta huruf dan kagum dengan bagaimana penulis-penulis mampu merangkai huruf menjadi tulisan yang luar biasa.
Lalu, apa ketidakpercayaan diri saya sudah lenyap?
Tentu belum. Ada masa-masa di mana saya merasa terasing, terpencil dan rasanya ingin tenggelam. Namun, sejauh ini saya berusaha untuk mengatasinya. Bukan hal sulit memang tapi juga jika teman mengerti, itu bukan juga hal yang enteng.
Saat ini, menulis merupakan salah satu cara saya melarikan diri dari rasa tidak percaya diri. Saya menulis pikiran saya, yang mungkin tidak memiliki kesempatan untuk disampaikan kepada dunia. Selain tidak semua orang mau mendengar hal-hal ini, -karena mungkin terlalu berat untuk dipikirkan atau malah terlalu cemen untuk direspon-, juga dikarenakan tidak semua orang saya izinkan tahu.
Pikiran saya adalah pusara di mana saya merasa paling hidup.
Pikiran saya adalah surga di mana saya merasa saya paling percaya diri.
Pikiran saya adalah debu yang tak punya arti jika saya tidak memberi makna.
Saya masih melarikan diri dari ketidakpercayaan diri, melawannya dengan keberanian dan kejujuran seperti yang diajarkan Ibunda dan Ayahanda. Tidak melulu saya bisa menang. Tapi, demi pikiran saya, saya pastikan saya berjuang.
-Putria Perdana Iriantono-

Recent Comments