Melarikan Diri dari Ketidakpercayaan Diri

•April 20, 2012 • Leave a Comment

Saya berjuang melawan ketidakpercayaan diri. Dan itu bukan hal yang mudah.

Sepanjang usia saya hingga 26 tahun, saya melarikan diri dari ketidakpercayaan diri. Saya tidak lahir begitu saja dengan anugerah percaya diri yang tinggi. Percaya diri saya, dibangun perlahan-lahan, seperti tumpukan bata yang terkadang bisa jatuh. Semua adalah kerja keras bagi saya.

Ketika kecil, saya sangat kurus dan berkulit hitam (cokelat kata nabilla) serta tidak pandai memulai pembicaraan yang mungkin masih terasa sampai saat ini. Saya adalah pemalu secara alamiah. Akrab dengan seseorang yang baru adalah hal sulit bagi saya. Apalagi menemukan bahan pembicaraan yang asyik dan renyah yang dapat membuat saya dan teman baru bercakap-cakap hingga lama, rasanya tidak pernah dalam pertemuan pertama.

Pada saat saya SD, saya yang memang telah tertarik dengan huruf dan bagaimana huruf dapat membuat sebuah paragraf yang indah, jatuh cinta kepada puisi. Setiap memulai kelas baru, saya selalu membaca buku pelajaran bahasa Indonesia hingga selesai, untuk mencari puisi-puisi yang ada di dalamnya.

Puisi adalah hal pertama yang membantu saya belajar percaya diri. Membaca puisi di depan kelas, bukan main “demam panggungnya”. Puisi tidak mudah, teman. Intonasi kita harus baik, membacanya mesti kuat dan keras agar terdengar, dan ada permainan nada yang penuh emosi agar menggugah.

Jika dulu saya dipanggil guru ke depan kelas membaca puisi, teman-teman yang lain langsung merosot duduknya. Mungkin mereka takut dengan suara keras saya, mungkin mereka malu melihat saya. Hal yang biasa terjadi ketika kita kecil, kita merasa berdebar melihat orang lain tampil.

Ibunda pendukung utama saya. Jika sedang belajar baca puisi, beliau selalu berpesan, “Anggap saja tidak ada yang menonton. Anggap semua batu”. Hal tersebut akan memudarkan gemetar saya perlahan-lahan ketika membaca puisi di depan umum.

Begini-begini saya juara 1 lomba baca puisi SD ketika PORSENI loh. :)

Beranjak SMP, saya yang tidak ‘centil’ seperti kebanyakan teman-teman perempuan yang lain, berhasil naik kelas percaya diri melalui kegiatan Pramuka. Pramuka banyak membantu, karena bersama teman-teman regu, saya tahu bahwa saya tidak aneh. Bahwa jenis karakter perempuan tidak hanya ‘centil’ dan ‘kutu buku’, di mana saya tidak berada pada dua dunia itu.

Saya bersama regu juga juara 1 LTBB di SMP 8.

Masa SMA yang mulai banyak orang berpacar-pacaran itu saya habiskan tanpa pacar. Saya kerja keras beradaptasi dengan sekolah hebat di mana persaingannya juga hebat. Saya berusaha menaikkan nilai gambar saya dari 2 pelan-pelan ke 5. Di SMA, saya ikut serta ekskul tari dan taekwondo. Dan kedua kegiatan itu selain memberi teman juga membantu percaya diri saya semakin meningkat.

SMA masa sulit bagi saya. Mulai dari akademis yang sulit sekali meraih angka memuaskan, sampai naksir cowok yang cuma berani saya pandangi saja.

Tetapi saya juga juara 1 lomba baca berita saat Agustusan. ^^

Selama SD dan SMP, saya tidak memiliki masalah dengan nilai. Tetapi masa SMA inilh yang membuat saya pernah merasa tertekan dengan angka-angka ajaib yang muncul. Entah trauma atau seperti cambukan atau malah berkah dari SMA, ketika kuliah saya sangat anti nilai C.

Jika dapat B saja, saya langsung sebel. Obsesi saya pada nilai juga membantu menaikkan percaya diri saya yang tidak bisa saya mengerti mengapa. Jadi, tolong jangan salah paham jika nilai kuliah saya membuat teman-teman bertanya-tanya. Karena sesungguhnya saya kerja keras sekali dan belajar dari kejatuhan saya ketika SMA.

Teman, tidak percaya diri itu menyiksa. Dan saya berusaha memutus hal itu. Kuliah mungkin memberi pengaruh besar atas percaya diri saya. Belajar public speaking dan sederetan presentasi hingga menjawab pertanyaan membantu saya membangun diri untuk tegas dan berargumen. Memilih kata-kata yang manis serta meluncur indah juga saya pelajari sebagai tambahan yang saya sukai karena saya pecinta huruf dan kagum dengan bagaimana penulis-penulis mampu merangkai huruf menjadi tulisan yang luar biasa.

Lalu, apa ketidakpercayaan diri saya sudah lenyap?

Tentu belum. Ada masa-masa di mana saya merasa terasing, terpencil dan rasanya ingin tenggelam. Namun, sejauh ini saya berusaha untuk mengatasinya. Bukan hal sulit memang tapi juga jika teman mengerti, itu bukan juga hal yang enteng.

Saat ini, menulis merupakan salah satu cara saya melarikan diri dari rasa tidak percaya diri. Saya menulis pikiran saya, yang mungkin tidak memiliki kesempatan untuk disampaikan kepada dunia. Selain tidak semua orang mau mendengar hal-hal ini, -karena mungkin terlalu berat untuk dipikirkan atau malah terlalu cemen untuk direspon-, juga dikarenakan tidak semua orang saya izinkan tahu.

Pikiran saya adalah pusara di mana saya merasa paling hidup.

Pikiran saya adalah surga di mana saya merasa saya paling percaya diri.

Pikiran saya adalah debu yang tak punya arti jika saya tidak memberi makna.

Saya masih melarikan diri dari ketidakpercayaan diri, melawannya dengan keberanian dan kejujuran seperti yang diajarkan Ibunda dan Ayahanda. Tidak melulu saya bisa menang. Tapi, demi pikiran saya, saya pastikan saya berjuang.

 

-Putria Perdana Iriantono-

Laki-laki Takut Wanita Pintar?

•April 18, 2012 • Leave a Comment

Mengapa menjadi salah wanita jika dia pintar? Mengapa laki-laki tidak berusaha lebih pintar lagi agar ia memenangkan standar publik?

Saya melanjutkan pendidikan pascasarjana saya, tidak untuk memendam rencana penindasan terhadap lelaki yang akan berada di samping saya.

Saya menyukai proses belajar dan memahami, bukan untuk membuat lebih rendah posisi publik lelaki yang akan berada di samping saya.

Saya tidak pintar. Sedikit mungkin. Terima kasih jika ada yang menyatakannya. :)

Saya hanya menyukai otak saya bekerja. Saya suka berpikir. Termasuk memikirkan mimpi-mimpi personal dan melamun. Melamun juga berpikir, karena membangun imajinasi membutuhkan usaha dan tenaga. Biarkanlah argumen ini, teman.

Pada banyak waktu, banyak orang bertanya pada saya: “Setelah selesai S2 mau lanjut S3?”. Kepada semuanya saya selalu menjawab sama: “Iya, jika memungkinkan dan diberi jalan. Penginnya sih beasiswa”.

Respon selanjutnya dari jawaban saya beragam. Dan saya memakluminya. Saya tidak perlu mengerti mengapa ada yang menghakimi saya. Karena saya juga tidak ingin memaksa mereka mengerti tentang pikiran-pikiran saya. Adalah kebebasan untuk menilai, mengkotak-kotakkan, menghakimi dan mencibir.

Juga tidak ada yang perlu dibela dari saya. Saya ini apa sih?

Hanya gadis muda dengan mimpinya dan juga keras kepalanya. Jauh lebih banyak wanita hebat di luar saya yang tidak perlu bicara, sudah membuat orang-orang menghela nafas.

Tapi perlukah mencegah saya sekolah lagi jika saya mau dan punya kesempatan, hanya agar laki-laki tidak takut dengan saya?

Teman,

Anda adalah makhluk hebat yang hidup di zaman sekelas BB dan Ipad. Anda adalah manusia yang mengerti wacana money politic dan sang bintang Barca, Messi. Cobalah Anda pahami, mengapa pada era kekinian, di mana Anda ngopi Starbuck dan malu beli baju di Cimol (baju bekas), ada pemikiran yang hampir melampaui gaya hidup Anda sendiri seperti itu?

Pemikiran yang sangat feodal dan memojokkan.

Pemikiran yang meruntuhkan percaya diri seorang wanita, yang dengan sendirinya akan memundurkan langkahnya.

Tentu saya tidak berbicara tentang saya seorang. Tema ini bertebaran. Dan saya ingin menuliskannya karena poin ini menjadi pertanyaan saya.

Mengapa menjadi salah wanita jika dia pintar? Mengapa bukan salah laki-laki yang tidak bisa mengontrol wanitanya yang pintar? Mengapa tidak salah laki-laki yang tidak mampu lebih pintar dari wanitanya?

Dan tentu saja, mengapa laki-laki takut dengan wanita pintar?

Dalam pengalaman hidup saya, -memang perspektif personal tetapi tidak meruntuhkan opini karena pengetahuan saya berdasarkan pengalaman saya-, pintar merupakan kata yang tidak ada ukurannya. Ayah saya pintar menurut saya. Beliau jago sekali hitung-hitungan dan perencanaan. Ibu saya juga pintar dalam pandangan saya. Beliau dapat mengomentari diskusi di televisi dengan sama objektif dan kualitasnya dengan narasumber itu sendiri. Adik-adik saya juga pintar. Si tengah piawai membuat kerajinan tangan dan ide-ide unik tentang detail. Sedangkan Si bungsu memiliki banyak teman dan relasi serta gagasan hebatnya.

Lalu, jika ukuran ‘pintar’ adalah gelar, saya skak mat dong.

Karena saya tidak mau ‘pintar’. Karena saya mau terus belajar. Dan jika hal itu salah, siapa yang menyusun patron-patron itu?

Masyarakat Indonesia adalah masyarkat kolektif. Dimana unsur kekeluargaan dan pengaruh sosial dari lingkungan sangat penting dalam pengambilan keputusan seseorang. Tidak ada manusia Indonesia yang pikirannya bebas dari pengaruh lingkungannya termasuk keluarga, teman maupun masyarakat sekitarnya.

Tidak rasional? Ya.

Pengaruh pemikiran ‘laki-laki takut wanita pintar’ pastilah juga berkaitan dengan lingkup sosial. Dimana hegemoni kedudukan publik laki-laki mesti lebih tinggi dari wanita. Dan kekuasaan perlu simbol. Maka itu, muncul pemikiran gelar yang lebih tinggi mesti jatuh di tangan laki-laki. Dan jika ada wanita yang ‘bersimbol’ lebih tinggi, itu akan melunturkan kedudukan dan kekuasaan laki-laki. Secara mental dan secara publik.

Sayangnya, laki-laki tidak menggunakan kesempatan pada masa demokrasi untuk memperkaya pikiran dan wawasannya. Menutup mata dan pintu dari jalur-jalur alternatif untuk “silahkan, monggo mas” meraih kedudukan lebih tinggi dari wanita. Padahal mereka mampu dan bisa. Sekolahlah yang tinggi dan banyak. Koleksilah ‘simbol-simbol’ untuk cangkang kedudukan publik Anda. Setelah itu laki-laki bisa melewati wanita dengan dada terangkat. Tidak akan ada yang menyalahkan jika begitu.

Namun adanya, mencegah wanita sekolah lagi hanya karena laki-laki tidak berniat sekolah lagi dan merasa turun harga diri jika wanita Anda punya ‘simbol’ lebih tinggi, bukankah tindakan pengecut?

Jika laki-laki tidak berniat sekolah lagi, dan berfokus pada pengumpulan pundi-pundi untuk keamanan dan kenyamanan finansial, silahkan. Saya tidak pernah menghina atau merasa telah memandang rendah harga diri Anda. Jadi, mengapa laki-laki harus takut dengan wanita bersimbol? Mengapa takut dengan wanita pintar?

Hegemoni laki-laki dalam kehidupan manusia Indonesia tidak dapat dihilangkan begitu saja. Ia telah ada sebagai budaya dengan cakar yang kuat. Ia didukung sistem pasar dan modal. Ia menjadi dalang dibelakang suguhan tontonan ‘dada dan paha’ wanita di iklan. Ia menjadi penentu bentuk konsumerisme baru sebagai bentuk gaya hidup.

Laki-laki menciptakan pelacur, melatarbelakangi aborsi dan membuat wanita tidak aman di jalan sendirian. Laki-laki telah menang dan mendapatkan piala kekuasaannya diantara wanita yang belum pintar atau terpaksa tidak pintar.

Laki-laki memiliki kekuasaan untuk meraih kehormatannya lebih besar lagi.

Lebih besar dari sekedar menjual ‘dada dan paha’ wanita. Lebih besar dari sekedar menjadi ‘playboy’. Lebih hebat dari pemilik uang dan penjamin finansial kehidupan. Jika laki-laki tahu, cara satu-satunya mengangkat kedudukan publiknya bertingkat-tingkat lebih tinggi, adalah dengan mengangkat wanitanya.

Karena, hanya bersama wanita yang Anda izinkan pintar, Anda sepenuhnya lebih pintar.

Jadi, tidak perlu takut wanita pintar. Percayalah, meskipun dia pintar, dia tidak akan mengakali Anda dan merendahkan Anda. Karena wanita bukan tumbuh untuk mencari keuntungan. Mereka tumbuh untuk memberi lebih banyak.

 

-Putria Perdana Iriantono-

Sudah Biasa di Jakarta

•April 12, 2012 • Leave a Comment

Ada bom waktu di Jakarta. Ketika semua orang melihat pelanggaran sebagai sesuatu yang biasa

Apa yang tidak biasa di Jakarta?

Abang-abang pipis sembarangan di pinggir jalan, meskipun itu di trotoar gedung perkantoran, biasa.

Motor-motor melaju kencang meski lampu menyala merah, biasa.

Mobil-mobil menjemput murid sekolahan hingga mengambil bahu jalan dua lajur, biasa.

Waria bernyanyi dari waktu ke waktu dengan pakaian minim dan goyangan-goyangan erotis, biasa.

Polisi naik motor tanpa helm? biasa.

Masyarakat Jakarta mungkin terlalu lelah dengan banyaknya pelanggaran yang terjadi di sekitar mereka. Masyarakat Jakarta mungkin tidak peduli dengan nasib pejalan kaki sementara trotoar digunakan oleh motor untuk melaju. Masyarakat Jakarta mungkin merasa tidak memiliki benefit dalam hidupnya jika ia harus mematikan AC ketika tidak ada orang di rumah.

Hal buruk adalah biasa bagi mereka.

Meski, bagi saya itu menjadi kepedihan. Semakin hari, seiring dengan bertambahnya waktu saya menjalani hari-hari di Jakarta, pelanggaran sudah tidak bermakna lagi. Kata itu menghilang, direspon dengan santai dan cuek, dilirik pun tidak.

Setiap harinya, untuk setiap hal pelanggaran yang dilakukan, mereka berkomentar, “sudah biasa”.

Mengerikan sekali saya mendengarnya. Bertoleransi dengan keburukan dan pelanggaran membawa masa kelam bagi masyarakat Jakarta. Aturan dan pakem mulai bergeser, cara dan tata mulai berubah. Lama-kelamaan kondisi sosial dan lingkungan bisa-bisa menjadi liar tanpa kendali.

Masyarakat hidup sendiri-sendiri dalam wadah yang sama bernama Jakarta.

 

Apakah ada yang protes dengan pelanggaran selain saya?

Mungkin banyak. Tetapi mereka sudah biasa protes, akhirnya diem juga karena terlalu sering berbicara. Mungkin terlalu sering dijanjikan. Mungkin terlalu banyak kesibukan dan daftar belanja untuk peduli? Siapa yang tahu.

Ketidakpedulian masyarakat Jakarta terhadap pelanggaran yang terjadi di sekitar mereka dan pada ruang lingkup hidup mereka sesungguhnya mencerminkan ketidakberadaan mereka dalam kehidupan bersama itu sendiri. Mereka tidak terekam dalam sosialisasi, mereka mengotak-ngotakkan cara hidup mereka sendiri.

Mereka membuat pakem, yang akhirnya membawa mereka pada keadaan jiwa yang ‘mati’ tanpa rangsangan. Mereka menjadi buta, tuli dan bisu untuk merespon apapun yang terjadi.

Dan salah satu faktornya, karena mereka diajarkan untuk seperti itu. Mungkin mereka dibiarkan merasa dilanggar dan melakukan pelanggaran. Mereka tidak diberi edukasi dan sosialisasi mengenai apa itu yang salah dari pelanggaran dan bagaimana tata hidup yang benar.

Mereka tidak diurus.

Sehingga wajar saja jika kata, “sudah biasa” meluncur mulus dan lembut dari bibir masyarakat Jakarta atas suatu pelanggaran. Karena mereka hidup dalam dunia yang tidak ada aturan, termasuk dari diri mereka sendiri.

 

-Putria Perdana Iriantono-

 

rokok, demokrasi, dan emansipasi wanita

•April 12, 2012 • Leave a Comment

saya tidak anti pada wanita yang merokok. tapi pada rokok itu sendiri

Malam ini saya makan nasi goreng di TIM. Sudah pukul 22.00 WIB kira-kira ketika saya mulai makan sambil mengobrol bersama seorang sahabat bernama Abhot.

Tiba-tiba mata saya tidak bisa lepas dari seorang perempuan muda berparas cantik dan imut yang sedang merokok, yang kebetulan duduk di dekat saya. Meskipun saya tidak kenal, saya merasa ada intensitas dalam pandangan saya terhadapnya. Saya perkirakan usianya 15 tahun kurang. Tubuhnya belum tumbuh sempurna. Dalam balutan baju u can see putih longgar dan celana legging, perempuan muda itu menggemaskan. Lalu saya merasa sedih.

Dia memang bukan tanggung jawab saya. Dia tanggung jawab orang tuanya. Apa yang dia lakukan memang bukan urusan saya. Tapi kemudian saya bertanya kembali kepada diri saya, benarkah bukan tanggung jawab saya? Benarkah bukan urusan saya?

Sebagai seorang dewasa yang sedang belajar melihat lebih luas, saya merasa memiliki keterhubungan dengan perempuan muda yang entah siapa namanya dan sedang merokok dengan cueknya tersebut. Bukan hanya karena dia seorang perempuan, tetapi juga karena dia masih muda.

Saya kemudian teringat perempuan muda lainnya yang saya lihat merokok sambil minum bir di sebuah konser di The Rolling Stone Venue beberapa waktu yang lalu. Saya juga menjadi ingat perempuan muda lainnya yang merokok sambil mengepul puas di pinggir jalan di depan warung 24jam yang sedang in di Jakarta itu. Semua perempuan muda ini memperlihatkan fenomena yang sama. Rokok dan simbol kebebasan dirinya.

Apakah benar rokok simbol kebebasan? Apakah benar rokok cara menyalurkan eksitensi, kealpaan, keinginan? Apakah memang benar bahwa rokok adalah demokrasi? Saya terperanjat. Melihat, terutama di ibukota ini, bagaimana rokok dengan leluasanya memasuki lingkaran-lingkaran pribadi perempuan muda. Rokok seakan tidak memiliki kendala untuk terdistribusi, tersaji dan terkonsumsi oleh peremuan muda-perempuan muda tersebut. Rokok semisal hadiah nyata dari bagaimana mereka menamakan kemerdekaan diri.

Seorang teman perempuan pernah mengatakan kepada saya, merokok adalah human right. Ketika itu, saya mengernyit, dan tidak menyetujuinya. Dan melihat fenomena perempuan muda yang merokok ini, saya juga tidak menyetujui anggapan emansipasi wanita dan demokrasi dibalik fenomena ini. Saya memaparkan argumen saya.

Rokok menjadi human right dan hak semua orang, jika keadilan terjadi.

JIKA semua orang yang merokok mendapatkan informasi yang sama, yang benar, yang terakurat dan faktual mengenai bahaya rokok.

JIKA semua orang yang merokok mengetahui dengan pasti ke mana uang-uang yang mereka bayarkan itu akhirnya bermuara. Yang bukan kepada petani tembakau.

JIKA semua orang, termasuk perempuan-perempuan muda ini benar-benar sadar dan mengakui, pilihan mereka merokok karena kebutuhan dan tidak dipengaruhi konstruksi gaul dari media.

Selebihnya, mereka, perempuan-perempuan muda ini hanyalah korban. Saya tidak mengatakan laki-laki muda boleh merokok, tapi dalam hal ini saya ingin fokus pada perempuan-perempuan muda. Mereka korban dari kekuatan dan hegemoni laki-laki. Selalu begitu akhirnya.

Mereka korban dari upaya untuk meninggalkan sisi manis dan mengarungi sedikit keliaran sebagai penyeimbang dengan laki-laki.

Mereka korban dari propaganda majalah remaja dan film-film Amerika yang mengatasnamakan kemudaan dan kebebasan sebagai alasan di balik rokok.

Mereka korban dari ketidakberdayaan laki-laki (sebagai teman mereka) menjaga mereka.

Mereka korban sebagai tontonan laki-laki lainnya yang tidak peduli mengapa mereka merokok.

Rokok bukan emansipasi wanita. Rokok bukan lambang demokrasi. Rokok bukan hasil, proses dan tujuan yang visioner dari sebuah perubahan kematangan usia. Rokok bukan human right. Karena rokok hadir dengan kepentingan orang lain. Karena rokok hanya mengajarkan perempuan-perempuan muda ini menghisap, mengepul dan menjadi konsumen produk mereka dengan setianya hingga perempuan-perempuan muda ini mulai beranjak dewasa, dewasa secara utuh hingga tua.

Rokok tidak peduli pada alasan-alasan perempuan-perempuan muda ini merokok, karena rokok hanya ingin mereka ada untuk membeli.

-Putria Perdana Iriantono-

Apa yang Pemerintah Tanah Kaya Lakukan?

•August 16, 2011 • Leave a Comment

Selamat sore kawan,
akhirnya saya posting lagi.

Saya ingin berbagi cerita dari perjalanan saya. Sebulan yang lalu, sekitar tanggal 16 saya ke negeri tetangga Malaysia, lalu lanjut ke Phi-phi Island, Thailand.

Itu merupakan perjalanan pertama saya ke luar negeri. Sungguh. Saya malu mengakuinya, karena sebenarnya kesempatan besar selalu ada. Tidak mahal-mahal juga. Apalagi ada adik bungsu saya yang berdomisili dan bersekolah di Malaysia, tentu mudah seharusnya bagi saya ke sana.

Pelajaran berharga yang saya dapatkan dari kunjungan ke negeri tetangga yang lebih makmur itu, saya melihat perbedaan besar dari fasilitas negara yang diberikan oleh pemerintah Malaysia kepada rakyatnya dengan yang diberikan pemerintah Indonesia.

Malaysia bukan negara yang kaya-kaya amat. Jika mau dibandingkan dengan SDA dan SDM, Malaysia ketendang jauh dari Indonesia.

Tapi kawan,
Malaysia terasa makmur. Terasa nyaman dan terlindungi berjalan di jalan-jalannya.
Ada yang diperhatikan di sana. Trotoar yang bersih, transportasi publik yang baik, tidak ada gunungan sampah, tidak ada pengemis berkeliaran, rumah kumuh atau mobil berasap tebal.

Mengapa itu menjadikan Malaysia lebih baik dari negeri kita?

Karena itu memperlihatkan, bagaimana pemerintahan Malaysia memperlakukan warga negaranya.

Hal itu menunjukkan bagaimana posisi rakyat di mata pemerintah. Negara terasa hadir karena ada bukti-bukti kerja pemerintahnya yang dekat dan langsung terasa.

Saya belajar kawan. Saya melihat dan memahami.

Negera modern dengan fasilitas baik dan membuat kita satu kelas naik di bandingkan berada di negeri sendiri itu, harus kita akui memperlakukan warga negaranya dengan baik, adik, fair dan terotoritas.

Dan saya juga dengan hati mencelos harus mengakui, itu tidak terjadi oleh pemerintah Indonesia kepada warga negaranya.

Mengakui membuat lega, tapi kemudian ada kesenjangan yang harus ditutupi untuk dipenuhi. Pemerintah seharusnya malu ketika melakukan lawatan ke luar negeri dan menemui banyak kemudahan dan kebersihan kota serta fasilitas publik yang terjaga dan baik.

Pemerintah seharusnya mengambil pelajaran dari setiap kunjungannya ke luar negeri.

Apa yang bisa mereka lakukan di Tanah Kaya tapi terlihat miskin ini?
Pemerintah bisa belajar, seperti bagaimana saya belajar, bagaimana cara pemerintah negara tetangga memperlakukan warga negaranya.

-Putria Perdana-

Alasan Sesungguhnya

•April 2, 2011 • Leave a Comment

Ada satu alasan kenapa saya belum menyerah terhadap idiologi saya.

Bukan supaya terlihat gagah atau malah kebalikannya, egois. Bukan karena sesungguhnya saya tidak tahu mau saya apa. Bukan agar saya lepas dari tanggung jawab saya sebagai orang dewasa. Bukan karena saya pikir saya hebat. Bukan untuk meninggikan eksklusifitas diri saya. Bukan juga upaya kudeta dari jalur mainstream. Bukan pula usaha bunuh diri pelan-pelan seperti kata favorit orang dekat saya.

Saya hanya ingin membela kata hati saya. Hanya itu.

Koalisi Kecoa dan Kereta Indonesia

•March 6, 2011 • Leave a Comment

Temanku,

Sudah lama saya tidak posting. Dan saya ingin mewacanakan koalisi tandingan untuk meredam isu resuffle kabinetnya Pak Presiden. Daripada Pak Presiden pusing dan stress mikirin koalisi partai politik yang mulai regang, akan lebih baik manfaatnya memfokuskan pada masalah sosial kemasyarakatan rakyat dua ratus juta jiwa ini.

Transportasi di Indonesia memang keterlaluan “ga teraturnya”. Kalau ada orang asing yang ingin melihat seperti apa perhatian pemerintah tersayang pada rakyatnya, mungkin akan tergambar dari fasilitas transportasi yang awut-awutan dan kurang sekali perhatian. Terutama pada transportasi masal. Kereta misalnya.

Saya kebetulan fans berat kereta. Setiap sebulan sekali saya ke Bandung dari Jakarta untuk ke dokter gigi dan selalu memilih naik kereta. Begitu pula jika jadwal travelling. Rasanya asyik saja. Berbeda dengan naik travel atau bis.

Sangking bedanya, saya akhirnya menemui sebuah hipotesa baru mengenai kereta dan sebuah koalisi erat nan mencengangkan bersama kecoa. Jangan begitu, langsung menuduh saya naik ekonomi.

Saya telah mengalami semua kategori kereta kok.

Mulai dari ekonomi, bisnis, hingga eksekutif. Walau iya sih, eksekutif itu saya beli cuma kalo ada promo agen saja. Teman, saya tidak suka menghamburkan uang. Bisakah itu diterima sebagai alasan? Mudah-mudahan bisa yah.

Dari pengalaman dengan kereta api, hipotesa koalisi kecoa dan kereta saya temukan. Saya telah melakukan penelitian mendalam soal ini loh!! Ketika saya menuju Surabaya akhir Januari lalu, saya kembali merekam adegan ramainya kecoa mondar-mandir di dinding kereta. Sama seperti ketika saya naik kereta ekonomi Bandung-Jogja-Bandung. Kereta ekonomi Malang-Jakarta pun begitu. Dan juga kereta ekonomi Semarang-Jakarta.

Awalnya, saya menarik kesimpulan dari penelitian ini bahwa, kecoa hanya berkoalisi dengan kereta ekonomi. Mungkin kecoa ini mewakili kaum buruh, kuli dan warga menengah ke bawah yang pastilah berdesakan dan membawa banyak barang ketika bepergian dengan kereta. Jenis kecoanya tidak yang sebesar-besar jempol kaki, malah kecil-kecil. Paling besar seukuran kuku jari tangan dan paling kecil seperti angka 1 pada keyboard.

Sampai pada hipotesa koalisi kecoa dan kereta ekonomi, saya merasa prihatin kepada nasib marjinal dan juga nasib saya sendiri, yang mendapatkan bonus kecoa dalam perjalanan. Padahal suasana kereta yang terlalu penuh dan berdesakan hingga banyak yang berdiri, di mana akan kita temui untuk perjalanan ramai ke daerah Jawa, sudah cukup menyengsarakan. Karena oksigen otomatis rebutan. Belum lagi masalah tempat duduk yang bikin pegal punggung, pantat dan juga kaki yang tidak bisa lega menjulur karena akan tabrakan dengan kaki tetangga depan. Serta penyakit kereta ekonomi yang kalo berhenti bisa lama sekali karena mengalah pada kereta orang kaya (baca: kereta eksekutif).

Namun kesenjangan soal adanya kecoa itu sedikit terbantahkan dengan temuan baru saya bahwa di kereta bisnis pun juga ada kecoanya. Hal ini saya buktikan ketika saya sedang melakukan banyak perjalanan Jakarta-Bandung-Jakarta. Bedanya adalah, kecoa pada kereta bisnis tidak sebanyak kecoa kereta ekonomi. Hohoho.. saya selalu tidak mau bersandar di dinding kereta tuh. Tak pernah bisa membayangkan ada kecoa yang berjalan dengan sesuka hatinya ketika saya tidur. Saya merasa menjadi rakyat sederhana sekali deh kalo naek kereta bisnis. Karena ternyata tetap ada kecoanya! Lebih sedikit lega karena perjalanan tidak lebih dari 3,5 jam saja. Berbeda dengan perjalanan dengan kereta ekonomi yang mencapai 10 sampai 12 jam bahkan rekor terbaru saya 20 jam untuk Malang-Jakarta.

Kebahagiaan muncul ketika saya merasa agak gaya sedikit naik kereta gerbong eksekutif menuju Bandung. Wahh.. saya meyakini diri pasti rasanya beda deh. Eksekutif gitu loh! AC dan tentulah tanpa kecoa. Namun adanya hal ini salah besar. Kecoa ternyata telah menjalin koalisi pula dengan gerbong eksekutif. Saya sempat memotretnya, kecoa terbesar di gerbong eksekutif yang berjalan congkak di dinding kereta, merasa bahwa dia lebih keren dari saya. Kecoa eksekutif lebih sedikit lagi dari kecoa bisnis. Tapi adanya mereka lebih “gaya”. Bahkan berani melawan pelototan saya karena saya kaget sekali melihat kecoa di gerbong eksekutif. Terlalu!!

Penelitian saya ini akhirnya merujuk pada sebuah wacana hangat hasil olah pikir dan analisis anak komunikasi politik. :P

Bahwa, kecoa sendiri pun dalam rasnya telah terbagi menjadi tidak golongan.

Pertama, kecoa ekonomi yang mewakili kaum buruh dan kuli, mereka yang termarjinalkan dengan susah nafas dan pengap udara karena selalu penuh.

Kedua, kecoa bisnis yang mewakili mahasiswa dan pekerja staff yang masih terasa lebih keren dari kecoa ekonomi karena gerbong bisnis tidak sumpek dan oksigen banyak.

Ketiga, kecoa eksekutif yang mewakili pengusaha, anak yang bapaknya banyak duit serta tidak bisa hidup tanpa AC.

Masing-masing golongan memperlihatkan latarbelakang dan substansi hidup mereka. Kecoa ekonomi misalnya terbiasa dengan udara pengap, panas dan teriakan tukang dagang serta bau pesing kamar mandi. Mereka solid dan banyak sekali. Mulai dari yang paling kecil hingga besar. Seakan mewakili benar gambaran golongan tak berpunya. Kecoa bisnis meski cuma dapat kipas namun akses menuju eksekutif tidak sulit. Mereka dapat berjalan menyusuri gerbong dan mungkin mengantri untuk bertemu pejabat sementara dari kecoa eksekutif. Mereka lebih cerdas karena mendengar mahasiswa berdiskusi, ikut membaca koran si penumpang bahkan mulai belajar bahasa asing. Kecoa eksekutif adalah kecoa dari suku tertinggi. Mereka telah lahir dan besar dengan udara dingin seperti di Rusia. Bahkan bertemu dengan orang-orang hebat serta melihat orang-orang menggunakan BlackBerry, Ipad dan Kacamata hitam yang entah apa gunanya di dalam kereta. Kecoa eksekutif tidak lebih pintar dari kecoa bisnis, hanya saja mereka lebih eksklusif. Lebih bersih, wangi dan terlihat necis.

Lebih dari hipotesa koalisi kecoa dan kereta di Indonesia tercinta ini, saya melatih mata saya untuk membaca sebuah alur cerita. Yaitu koalisi kecoa dan kereta memperlihatkan bahwa walaupun Pak Presiden resuffle kabinet, mereka tetap menjalin koalisi, meskipun Pak Presiden hanya mengurusi tidak naik gaji dan cemas hak angket pajak, mereka tetap mesra berkoalisi.

Ini hanya hipotesa teman, walau demikian, saya berani menjamin hipotesa koalisi kecoa dan kereta di Indonesia telah terlalu mesra sehingga sulit dipisahkan.

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.